Kamis, 06 September 2012

Led Zeppelin Sang Raja Heavy Rock

Led Zeppelin benar-benar merupakan kelompok yang super, dipandang dari segala hal. Sejak 1968 yaitu pertama kalinya mereka menghimpun diri, rekor "Box Office" meledak di mana-mana. Lebih dari 10 juta piringan hitam Long Play (LP) -nya terjual.



Group ini terdiri dari Jimmy ”Charming” Page dengan kemahiran gitarnya, Robert “Percy” Plant dengan lengking vokalnya yang konon mencapai 10 oktaf, John “Bonzo” Bonham dengan gemuruh dram dan John Paul Jones dengan dentum bas gitarnya. Kejayaan Led Zeppelin adalah pada saat konser di Amerika Serikat pada tahun 1973 tepatnya pada serangkaian konser mereka di Madison Square Garden, New York.

Pada setiap pertunjukan mereka, tempat yang dipakai untuk pertunjukan selalu penuh sesak, di dalam maupun di luar komplek, sehingga para personel band harus dijaga ketat oleh petugas keamanan. Para personil kemudian duduk-duduk santai sampai anak buah Peter Grant, sang Manager pertunjukan, menjebol pintu rias dan berteriak-teriak agar pertunjukan segera di mulai.

Di antara gempita dan tepuk riuh dan teriakan, satu persatu tampak wajah para personil, lampu menyala. Gemuruh penonton seakan bergelombang, para petugas mulai kewalahan. Namun suara Plant mampu menyihir penonton, sebait lagu mulai bisa menenangkan massa di antara dentum dram dan gitar. Penonton dibiarkan tertegun dan diam sesaat sebelum mereka membawakan lagu yang lain. Tiba-tiba dengan acuh tak acuh Page menggetarkan petikan gitar solo yang ganjil tapi berbobot, berbagai pola kebisingan penuh tenaga, meletup-letup.

Berkisar di antara musik rock liar dan lagu cinta yang lembut, Led Zeppelin berhasil menyelesaikan penampilan mereka selama 3 jam non-stop. Dan meskipun suasana hati yang diciptakannya berubah-ubah di antara yang liar dan yang lembut, ketegangan yang mencekam penonton tak berkurang kuatnya.

Yang istimewa, semua itu bukan sekedar volume ataupun dinamika suara saja. Tidak seperti para pencadu musik rock lainnya, musik Led Zeppelin jelas utuh, tercipta oleh kehati-hatian mengolah, menyusun dan melengkapi variasi komposisi musik. Suara keras hanyalah sebuah alat untuk menonjolkan kontras.

Stadium itu tergetar kembali oleh riuh tepuk tangan selama 15 menit, ketika mereka membawakan 2 lagu ekstra.Walaupun penampilan mereka tampak sebagai visual yang gemerlapan, sebenarnya kemahiran merekalah yang mengambil peranan penting di atas pentas tersebut.


Jimmy Page dianggap sebagi musisi yang menentukan nasib Led Zeppelin. Ia seorang pendiam yang suka menyendiri. Tapi terkenal dengan kekuatan yang tenang-tenang menghanyutkan. Dan itu terlihat pada permainan gitarnya yang memukau.

Album pertama mereka beredar di awal tahun 1969 dengan menampilkan musik rock yang agresif dan berisi lirik-lirik yang “seksi”. Jimmy Page juga mengekplorasi kemampuanya yang garang tapi juga dikendalikan dengan hati-hati, seperti lagu “Black Mountain Side”, sebuah nomor gitar akustik bersenar metal.

Walaupun penjualan album mereka lancar, tetapi mereka tidak pernah berminat untuk mencetak piringan hitam tunggal di Inggris. Mereka ingin mengkombinasikan kemajuan karir mereka dengan berbagai tour yang sukses dan produksi satu album setiap tahunnya. Namun publik dan pers tidak selalu menerima alasan itu.

Album kedua mereka (Led Zeppelin II) yang beredar pada bulan Agustus 1970 semakin memperkokoh posisi keberhasilan mereka. Beberapa lagu mereka seperti “Whole Lotta Love” dan “The Lemon Song” menjadi puncak musik heavy rock. Dan terselip juga “Moby Dick” sebuah solo dram yang garang tapi penuh inovasi dari Bonham.

Album ketiga mereka (Led Zeppelin III) berbeda dengan rekaman-rekaman sebelumnya, kali ini mereka melantunkan lagu-lagu lama dan beberapa lagu folk tradisional dari daerah pedalama Welsh. Pers mengkritik album mereka habis-habisan, tetapi dalam album ini terselip sebuah lagu blues yang kental sekaligus fenomenal, menjadi inspirasi untuk generasi berikutnya “Since I’ve Been Loving You”.

Setahun kemudian, setelah mengakhiri dua kali konser yang sukses, grup ini mulai mempersiapkan satu album yang baru. Mereka berusaha membuktikan bahwa mereka masih harus dikagumi lewat LP disamping live show mereka. Secara nekad mereka memproduksi album keempat dengan tidak menempelkan nama grup tersebut, tidak juga nama ataupun wajah mereka. Mereka hanya mengukir empat lambang yang menunjukan jati diri mereka. Album tersebut diedarkan pada bulan November 1971, sementara banyak yang yakin bahwa Led Zeppelin secara bodoh membunuh karir dan pasaran musik mereka, justru yang terjadi sebaliknya, album tersebut menjadi hits yang diperebutkan di mana-mana. Sebuah lagu “Stairway to Heaven” menjadikan master karya musik yang tak tergantikan sampai sekarang.

Namun hubungan yang kurang enak di antara Led Zeppelin dan orang-orang pers tetap merupakan sumber bahaya, di mana akan menenggelamkan karir mereka. Sikap ini dipicu oleh kesombongan Led Zeppelin sendiri dan orang-orang yang obyektif dan sinis terhadap original karya mereka.

Pada Tahun 1972 mereka mengadakan tur konser di Amerika, pada saat bersamaan dengan The Rolling Stones yang juga mengadakan konser di sana. Akibatnya dengan mudah Led Zeppelin tersisihkan dari publikasi koran-koran. Dalam tur ini mereka kurang mendapat sambutan.

Dalam bulan Mei 1973, mereka meluncurkan album baru “House of The Holy” dan perdebatan pun mulai dikobarkan lagi. Ada sebagian yang suka dengan lagu Zeppelin tetapi tidak suka dengan personil, begitupun sebaliknya. Disini terdapat lagu “Kashmir” yang cukup menggoda.

Tak dapat disangkal, dengan terjualnya 58.000 karcis oleh penonton yang ingin menyaksikan konser tunggal mereka di La Tampa, Florida, grup ini berhak mendapatkan gelar sebagai pemecah rekor untuk jumlah pengunjung dalam suatu pertunjukan grup band tunggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Topi dan Kaos Custom

Entri Populer